Pemkot Depok Kian Gencar Sosialisasikan Stop Kekerasan Terhadap Anak

DAERAH

Pemkot Depok Kian Gencar Sosialisasikan Stop Kekerasan Terhadap Anak
Depok, Siasat Kota
Belakangan ini, banyak terjadi kekerasan pada anak di Indonesia. Tak terkecuali yang baru-baru ini ramai diberitakan, pelecehan seksual oleh seorang guru honorer, di salah satu SDN di Depok kepada sejumlah siswanya. Menanggapi hal tersebut, Kabid Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak (TKPKLA), Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Depok, Yulia menyampaikan jika hal itu benar terjadi, tetapi juga menampik isu tidak adanya penanganan Dinas, setelah mendapat laporan orang tua korban. “Tidak benar jika ada yang menyampaikan Dinas tidak memberikan penanganan setelah mendapat laporan orang tua korban, DPAPMK melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), langsung merespon dan bekerja saat itu juga,” jelas Yulia.
Menurut Yulia, setelah mendapat laporan pelecehan seksual, PT2TP2A berkoordinasi dengan Disdik kota Depok membangun komunikasi dengan mengajak orang tua korban dan korban duduk bersama, mendiskusikan penanganan apa saja yang akan diberikan PT2TP2A, dalam hal ini melibatkan Fitriani Juhari Psikolog dari PT2TP2A. “Karena pada saat itu menjelang ujian dan pelapor tidak menyebutkan nama pelaku karena takut, akhirnya kami sepakat untuk melakukan konseling kepada korban dan membuat nyaman agar korban mau ikut Ujian Nasional, lalu penjangkauan kasus dengan melihat kondisi di sekolah tersebut, kami sepakat adakan edukasi untuk murid dan orang tua serta guru dengan harapan tidak ada korban lain,” ujarnya.
Demi memutus mata rantai perilaku pedofilia tersebut, Yulia menyarankan P2TP2A melakukan pendampingan terhadap korban, juga kepada pelaku. “Terapi psikis sangat diperlukan korban guna memulihkan trauma anak. Dan bagi pelaku, untuk memutus kebiasaan perilaku menyimpangnya, sebab perilaku fedofilia itu, biasanya adalah kelanjutan perilaku dari pelaku yang semula adalah korban,” paparnya.
Menyangkut berita kekurang-terbukaan Pemkot Depok atas kasus ini, Yulia menegaskan bahwa DPAPMK kota Depok hanya ingin melindungi anak sebagai korban, serta memutus perilaku menyimpang pelaku. “Tindakan kami, mungkin terkesan silent, selain supaya korban mau mengikuti Ujian Nasional, kami juga menjaga stigma buruk atas identitas korban, identitas sekolah maupun tenaga pendidik di sekolah itu ke depannya. Sebab dari 12 anak yang melapor menjadi korban, baru 10 anak yang sudah mau dengan pendampingan psikis dari psikolog, sedang yang 2 anak lagi masih mengalami trauma yang cukup berat, sehingga masih terkesan masih menutup diri,” terangnya.

DPAPMK Kota Depok Sejak Lama Sudah Gaungkan Stop Kekerasan Pada Anak
Menghadapi kemajuan teknologi dan semakin maraknya kasus kekerasan terhadap anak belakangan ini, Pemkot Depok melalui Dinas Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakan dan Keluarga (DPAPMK) gencar melaksanakan sosialisasi ‘Stop Kekerasan Pada Anak’. Bersama Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas PAPMK dan Diskominfo beserta mitra dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah bersepakat mencari solusi atas kekerasan tersebut. “Upaya perlindungan anak ini merupakan amanah dari program unggulan Pemkot Depok, Friendly City yang salah satunya adalah Ketahanan Keluarga,” sebut Eka Bachtiar, Kadis PAPMK kota Depok saat ditemui pada Selasa (04/07/2018) di kantornya.
Eka menuturkan, beberapa langkah strategis yang dilakukan pihaknya yaitu dengan membentuk P2TP2A, untuk penangan rehabilitasi dan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), untuk konseling Pola Asuh Anak Yang Benar. Termasuk bersama Dinsos membentuk Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). “Lembaga-lembaga ini yang secara intensif melakukan konseling, rehabilitasi, atau advokasi terhadap para korban,” tuturnya.
Saat ini kota Depok sudah berada di tahap 3 atau tahap Nindya menuju Kota Layak Anak (KLA), yang berarti kota Deppok tinggal melewati tahap Utama baru akan memperoleh gelar KLA. “Jadi Pemkot, masyarakat dan semua stake holder harus bergandengan tangan untuk melindungi 500.000-an anak dari tindakan kekerasan demi tercapainya Ketahanan Keluarga dan Kota Layak Anak,” sambungnya.
Senada dengan hal tersebut, Kabid TK-PKLA, Dinas PAPMK Depok, Yulia Oktavia menuturkan, di lingkungan sekolah sendiri, pihaknya dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok telah menggalakkan Sekolah Ramah Anak (SRA). Dibantu Forum Kota Layak Anak (Fokla), mereka akan mensosialisasikan SRA kepada para peserta didik baru tahun ajaran 2018/2019. Termasuk, mempublish program tersebut di semua lingkungan sekolah melalui poster, brosur dan spanduk yang di dalamnya terdapat hotline pengaduan. “Sampai saat ini sudah 354 Sekolah yang telah mendeklarasikan sebagai Sekolah Ramah Anak,” ucapnya.
Gaung jargon Stop Kekerasan Pada Anak juga telah gencar diadakan di semua Kelurahan di kota Depok, yakni di 63 Kelurahan. Selain itu DPAPMK Depok telah sosialisasi Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) kepada RW-RW ramah anak Kota Depok yang diselenggarakan di Aula Teratai, Balai Kota Depok, beberapa waktu lalu. “Ada sekitar 238 RW di Kota Depok sudah deklarasi RW Ramah Anak” sambungnya.
Kegiatan Parenting juga digalakkan di Puspaga, untuk mengedukasi orangtua tentang pola asuh anak yang benar. Sebab pada sekarang ini, kemajuan teknologi tak terkontrol, seperti pemakaian gadged yang tak didampingi orang tua, adalah salah satu penyebab perilaku menyimpang termasuk kekerasan pada Anak.
Baru-baru ini, bersama Diskominfo kota Depok, DPAPMK melaksanakan sosialisasi dan pembentukan Media Ramah Anak. Dimana media massa ikut berperan mengedukasi anak dan orangtua dengan menyuguhkan berita maupun tayangan yang mendidik secara benar dan proporsional. “Jika ada yang mendengar, melihat dan merasakan Kekerasan Pada Anak, silahkan lapor ke hotline kota Depok, 112 ataupun melalui akses Internet Sehat, yakni Aplikasi Sigap-nya Diskominfo. Selain itu, kami juga menggaungkan, gerakan perlindungan anak sekampung. Salah satunya dengan memasang spanduk, poster maupun brosur di seluruh RT/RW. Minimal menjadi peringatan bagi para predator anak, ternyata sudah ada kepedulian dari masyarakat tersebut terkait perlindungan anak. Diharapkan berbagai upaya ini akan meminimalisir korban kriminalitas terhadap anak,” tutup Yulia.
(ADV/BUDIMAN)

Leave a Reply